Manusia hidup dan digerakkan oleh keinginan. Waktu dan segala yang dimiliki manusia dipergunakan untuk merealisasikan keinginan mereka. Tetapi sebuah pertanyaan menghadang kenyataan ini; yaitu keinginan seperti apa dan keinginan siapa yang patut selalu diikuti?

Manusia dalam posisinya dengan keinginan terbahagi menjadi beberapa golongan:

Pertama, manusia yang hanya mengikuti keinginan dirinya. Tidak ada yang penting baginya kecuali yang dia mahu. Barangkali dia mengira bahwa dirinya merdeka. Merdeka menentukan segala yang dia mahu. Merdeka juga berfikir apa saja yang dia bayangkan. Kebebasan memang penting untuk membentuk keperibadian. Tanpa independensi seorang manusia hanyalah angka satu yang tidak terlalu penting di tengah jutaan manusia. Tetapi kebebasan ada batasnya. Manusia yang tidak mengenal batas dirinya cenderung untuk ego dan takabbaur tak bertempat, bahkan al-Qur’an menyebut manusia seperti ini sebagai manusia yang menyembah hawa nafsunya. Allah berfirman di surat al-Jatsiyah ayat 23:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (23)

23. “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS al-Jatsiyah (45): 23)

Rasulullah SAW juga menyebut orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya sebagai orang yang lemah.

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ. رواه الترمذي وابن ماجه وأحمد

“Orang yang pandai adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi banyak berangan-angan atas (kurnia) Allah.” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Kedua, manusia yang tidak punya keinginan kebebasan. Dia selalu didorong oleh pihak luar. Lingkungan, rakan-rakan, orang tua, bahkan seterunya, selalu menjadi pusat perhatiannya, dan selalu mendorongnya untuk bereaksi. Orang seperti ini tidak punya pendirian. Apa kata orang itulah katanya. Ke manapun angin berhembus ke sanalah dia berlayar. Orang seperti ini sangat dikecam Rasulullah, Baginda bersabda:

لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا. رواه الترمذي

“Janganlah kalian menjadi orang tidak berpendirian, yang mengatakan ‘jika orang-orang berbuat baik, kami juga berbuat baik, jika mereka berbuat zhalim, kami juga berbuat zhalim.’ Tetapi kuatkanlah pendirian kalian, jika orang-orang berbuat baik, berbuat baiklah, jika mereka berbuat zhalim, jangan kalian berbuat zhalim.” (HR at-Tirmidzi)

Ketiga, manusia yang selalu berperang antara kemahuan dirinya dan kemahuan orang lain, dan juga kemahuan Sang Pencipta. Dia selalu ingin mendapatkan penerimaan semua pihak tetapi tidak rela mengorbankan keinginan dan syahwatnya. Golongan seperti ini selalu diombang-ambingkan dengan ketidakpastian tujuan. Peperangan sengit dan rumit terjadi dalam diri mereka. Yang mampu menemukan dirinya dalam naungan Allah akan selamat, tetapi yang terus tak mampu menemukan skala prioriti akan hidup dalam pederitaan batin dan gejolak pemikiran yang tak berakhir.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا هَمَّ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهَا هَلَكَ. رواه ابن ماجه والحاكم وحسنه الألباني

“Barang siapa yang menjadikan pikiran-pikirannya menjadi satu pikiran yaitu pikiran akhirat, Allah cukupkan masalah dunianya. Dan barang siapa yang pikirannya bercabang-cabang di urusan dunia, Allah tidak perduli di lembah dunia mana dia akan binasa.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim dihasankan oleh al-Albani)

Semoga Allah menyelamatkan kita dari musibah seperti itu.

Keempat, manusia yang menenggelamkan dirinya dalam keinginan Sang Pencipta. Dia hanya menginginkan keridhaan Allah. Dia tahu bahawa dia hanya makhluk yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Manusia golongan ini adalah manusia luhur dan suci. Mereka menghayati firman Allah “Katakanlah bahawa sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.”

Tetapi beberapa tentangan serius menghadapi mereka. Tidak sedikit kegagalan terjadi jika anak Adam ini tidak berhasil menghadapi tentangan-tentangan tersebut.

Tentangan pertama adalah tentangan pemahaman. Sejauh mana anak manusia memahami apa yang Allah SWT tuntut darinya. Berapa banyak orang yang serius beribadah bahkan mengorbankan segala yang dia miliki untuk sesuatu hal yang sebetulnya tidak dituntut darinya. Betapa banyak kewajiban ditinggalkan karena melaksanakan ibadah sunah yang tidak prioriti dalam neraca Syariah. Betapa banyak kewajiban kolektif diabaikan padahal itu menyangkut kepentingan umum disebabkan sang manusia lebih asyik dengan ibadah personal yang bahagiannya boleh dikurangkan. Betapa banyak bid’ah yang dianggap sunnah. Betapa banyak sunnah yang dianggap bid’ah.

Tanpa berpegang teguh pada pemahaman yang benar terhadap Qur’an dan Sunnah, sangat sulit seorang muslim dapat dengan tepat melaksanakan peranan dan tugas yang dituntut darinya.

Kesalahan yang paling parah adalah yang terjadi pada golongan yang menganggap bahawa penyerahan diri terhadap Allah adalah bersikap fatal atau yang dikenal dengan kaum Jabbariyah. Bahwa manusia hanya dituntut menyerah pada takdir, tidak perlu berusaha atau merencanakan masa depan yang baik. Iman kepada takdir mereka fahami sebagai sikap pasif terhadap usaha perubahan.

Umar bin Khaththab pernah begitu gusar dengan pemahaman seperti ini, ketika beliau dan beberapa sahabat hendak memasuki daerah yang dilanda wabak. Setelah bermusyawarah akhirnya diputuskan untuk membatalkan kunjungan ke daerah tersebut. Salah seorang sahabat menentang keputusan itu, dan berkata, “Apakah kita lari dari takdir Allah?” Umar bin Khaththab terkejut dengan tanggapan tersebut, lalu menjawab, “Ya kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.”

Allah mengecam orang-orang yang menggunakan takdir sebagai alasan untuk tidak melaksanakan hal-hal yang seharusnya. Allah berfirman:

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آَبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ

148. “Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya Kami dan bapak-bapak Kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) Kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.”(QS al-An’am (6): 148)

Iman kepada takdir adalah kebenaran yang wajib diyakini, tetapi hal itu dimaksudkan agar kita tidak terjajah oleh masa lalu, tersiksa oleh penderitaan masa yang telah lepas, atau tertipu oleh sesuatu yang membuat kita terlena. Allah jelaskan dalam surat al-Hadid apa yang dimaksudkan dengan iman kepada takdir, Allah berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

22. “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.23. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS al-Hadid (57): 22-23)

Iman kepada takdir membuat seorang muslim tidak tenggelam dalam penderitaan atau tertipu oleh kenikmatan, karena dia sedar bahawa itu semua sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta, Yang Maha Bijaksana dan semua yang Allah tetapkan selalu menyimpan hikmah dan kebijaksanaan. Pendek kata iman kepada takdir dapat menghindarkan sesorang dari pedihnya keputus-asaan dan tipuan kesombongan. Di sisi lain Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat untuk kebaikan dirinya. Rasulullah SAW bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَان. رواه مسلم

“Bersunguh-sungguhlah meraih hal yang bermanfaat untukmu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan melemah. Jika Sesuatu menimpamu janganlah engkau berkata, ‘jika dulu aku lakukan ini pasti terjadi begini atau begitu.’ Tetapi katakanlah, Allah sudah menakdirkan, dan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi. Kerana perkataan ‘kalau’ membuka perbuatan setan[1].” (HR Muslim)

Kesalahfahaman lain yang sering terjadi dalam beribadah juga adalah pemahaman bahwa ibadah hanyalah terbatas pada hal-hal ritual. Banyak umat Islam yang masih belum memahami universal Islam, bahawa perintah Allah juga mencakup segala kebaikan di perbagai aspek kehidupan. Dengan ringan tangan banyak muslim yang menginfakkan jutaan ringgit untuk pergi haji atau umrah. Tetapi jumlah seperti itu sulit didapatkan untuk membangun projek-projek yang berkaitan dengan kemaslahatan bersama. Umat Islam sedar kalau sholat mereka batal kalau mereka berhadas, tetapi banyak tidak khuawatir seluruh amalnya batal karena rasuah, kronism dan menipu.

Kesalahfahaman yang juga banyak terjadi adalah berlebih-lebihan dan beragama. Ada yang berwudhu tapi sambil membuang air dengan mumbazir, ada yang sibuk mengucapkan niat sampai tidak bisa mengikuti sholat dengan baik dan khusyu’, ada yang sibuk dengan memendekkan pakaian sampai lupa memperhatikan hati dan memperbaiki akhlak. Ada yang terlalu berlebihan dalam masalah-masalah aqidah sampai mengkafirkan sebahagian besar umat Islam. Ada yang begitu membenci kekafiran tetapi lupa berdakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik. Begitu bahayanya sikap berlebih-lebihan dalam agama sampai Rasulullah SAW memperingatkan:

وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ. رواه النسائي وابن ماجه والبيهقي والطبراني في الكبير وابن حبان وابن خزيمة وصححه الألباني

“Jauhkan diri kalian dari berlebih-lebihan dalam agama. Sesungguhnya berlebih-lebihan dalam agama telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” (HR an-Nasa’I, Ibnu Majah, al-Baihaqi, at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah, dan dishahihkan oleh al-Albani)

Begitu banyak kesalahan dalam beribadah terjadi kerana ketidakfahaman terhadap Islam. Sebahagian besar bersumberkan dari jauhnya umat Islam dari pemahaman yang baik terhadap Qur’an dan Sunnah. Jarak yang terjadi bervariasi, mulai dari yang tidak pernah membaca al-Qur’an sama sekali, sampai yang membaca tetapi tidak memahami maknanya. Ada yang memahami sebagian kecil lalu merasa cukup dan merasa sudah pandai, bahkan mengira bahawa Islam hanya terangkum dalam beberapa ayat dan hadith. Ada yang mengaku mengerti al-Qur’an dan meninggalkan Hadith. Ada juga yang serius dengan hadith Nabi SAW tapi justeru meninggalkan al-Qur’an dengan tidak mentadabburi al-Qur’an dengan rutin.

Apakah itu semua terjadi kerana memahami agama Islam itu sulit? Sama sekali tidak. Tetapi siapapun yang menghendaki suatu tempat tapi tidak melalui jalan yang sesuai pasti tidak akan sampai tujuan. Seperti dikatakan oleh seorang penyair:

تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا إِنَّ السَّفِيْنَةَ لَمْ تَجْرِ عَلَى يَبَسِ

“Kau harap selamat tapi tidak menempuh jalannya

Sesungguhnya bahtera tidak berlayar di atas daratan kering”

Tentangan kedua dalam ibadah adalah diri manusia itu sendiri. Dia berhadapan dengan hawa nafsunya yang sering menggodanya untuk meninggalkan perintah Allah. Dia akan berhadapan godaan dari luar, tetapi semua terkait dengan kekuatan tekad dan keteguhan pendirian hamba Allah tersebut.

Ketika hawa nafsu mengajak kepada hal yang jelas dilarang barangkali masalah menjadi jelas. Yang lebih rumit adalah ketika hawa nafsu mengajak kepada hal yang samar (syubhat), disini dua persoalan merajut satu sama lain sehingga memperumitkan tentangan. Yang lebih rumit lagi adalah ketika hawa nafsu mendapatkan pembenaran yang palsu. Ketika dalil-dalil syar’I yang mutasyabihat (yang samar) dapat digunakan untuk membenarkan pelanggaran.

Semua tentangan itu tidak mudah. Karena itu ibadah seorang hamba tidak akan sempurna tanpa memohon pertolongan Allah. Oleh sebab itu jelas al-Fatihah yang harus diulang-ulang seorang muslim adalah: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.” (Kepada Engkau kami menyembah, dan kepada Engkau kami memohon pertolongan). Seorang muslim yang menyembah Allah tanpa memohon pertolongan dari-Nya, nescaya akan terjebak dan terjatuh dalam tentangan-tentangan yang sulit dalam perjalan hidup yang penuh dengan ujian.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita. Wallahu waliyyut taufiq.

Suatu hari, Ibnu Umar melihat seorang yang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu PENGORBANAN ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Diambil dari kitab al-Kabair, karya adz-Dzahabi)

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu.” Beliau menjawab, “Aku takut kalau-kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti mendurhakainya.” (Diambil dari kitab Uyunul Akhyar, karya Ibnu Qutaibah)

Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang lain. Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, maka beliau berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya mengatakan, “Keselamatan untukmu, wahai ibuku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Ibunya menjawab, “Dan untukmu keselamatan wahai anakku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun menjawab, “Dan semoga Allah merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut.” Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak memasuki rumah.” (Diambil dari kitab Adab al-Mufrad, karya Imam Bukhari)

Dari Anas bin Nadzr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi.” (Diambil dari kitab Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Ada seorang yang pulang dari bepergian, dia sampai di rumahnya bertepatan dengan ibunya berdiri mengerjakan shalat. Orang tersebut enggan duduk padahal ibunya berdiri. Mengetahui hal tersebut sang ibu lantas memanjangkan shalatnya, agar makin besar pahala yang di dapatkan anaknya. (Diambil dari Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Haiwah binti Syuraih adalah seorang ulama besar, suatu hari ketika beliau sedang mengajar, ibunya memanggil. “Hai Haiwah, berdirilah! Berilah makan ayam-ayam dengan gandum.” Mendengar panggilan ibunya beliau lantas berdiri dan meninggalkan pengajiannya. (Diambil dari al-Birr wasilah, karya Ibnu Jauzi)

Kahmas bin al-Hasan at-Tamimi melihat seekor kalajengking berada dalam rumahnya, beliau lantas ingin membunuh atau menangkapnya. Ternyata beliau kalah cepat, kalajengking tersebut sudah masuk ke dalam liangnya. Beliau lantas memasukkan tangannya ke dalam liang untuk menangkap kalajengking tersebut. Beliaupun tersengat kalajengking. Melihat tindakan seperti itu ada orang yang berkomentar, “Apa yang kau maksudkan dengan tindakan seperti itu.” Beliau mengatakan, “Aku khawatir kalau kalajengking tersebut keluar dari liangnya lalu menyengat ibuku.” (Diambil dari kitab Nuhzatul Fudhala’)

Muhammad bin Sirin mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya. (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma). Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Beliau menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa ku berikan pasti ku berikan.” (Diambil dari Shifatush Shafwah)

Hafshah binti Sirin mengatakan, “Ibu dari Muhammad bin Sirin sangat suka celupan warna untuk kain. Jika Muhammad bin Sirin memberikan kain untuk ibunya, maka beliau belikan kain yang paling halus. Jika hari raya tiba, Muhammad bin Sirin mencelupkan pewarna kain untuk ibunya. Aku tidak pernah melihat Muhamad bin Sirin bersuara keras di hadapan ibunya. Apabila beliau berkata-kata dengan ibunya, maka beliau seperti seorang yang berbisik-bisik. (Diambil dari Siyar A’lam an-Nubala’, karya adz-Dzahabi).

Ibnu Aun mengatakan, “Suatu ketika ada seorang menemui Muhammad bin Sirin pada saat beliau sedang berada di dekat ibunya. Setelah keluar rumah beliau bertanya kepada para sahabat Muhammad bin Sirin, “Ada apa dengan Muhammad, apakah dia mengadukan suatu hal? Para sahabat Muhammad bin Sirin mengatakan, “Tidak. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya jika berada di dekat ibunya.” (Diambil dari Siyar A’lamin Nubala’, karya adz-Dzahabi)

Humaid mengatakan, tatkala Ibu dari Iyas bin Muawiyah meninggal dunia, Iyas menangis, ada yang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab, “Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka untuk menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut sudah tertutup.” (Dari kitab Bir wasilah, karya Ibnul Jauzi)

Kisah Uwais al-Qorni

Dari Asir bin Jabir beliau mengatakan, “Jika para gabernur Yaman menemui khalifah Umar Ibnul Khatthab, maka khalifah selalu bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir”, sampai suatu hari beliau bertemu dengan Uwais, beliau bertanya, “engkau Uwais bin Amir?”, “Betul” Jawabnya. Khalifah Umar bertanya, “Engkau dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn?”, “Betul,” sahutnya. Beliau bertanya, “Dulu engkau pernah terkena penyakit belang lalu sembuh akan tetapi masih ada belang di tubuhmu sebesar uang dirham?”, “Betul.” Beliau bertanya, “Engkau memiliki seorang ibu.” Khalifah Umar mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Uwais bin Amir akan datang bersama rombongan orang dari Yaman dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn. Dahulu dia pernah terkena penyakit belang, lalu sembuh, akan tetapi masih ada belang di tubuhnya sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya dia berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah.” Maka mohonkanlah ampun kepada Allah untukku, Uwais al-Qarni lantas berdoa memohonkan ampun untuk Umar Ibnul Khatthab. Setelah itu Umar bertanya kepadanya, “Engkau hendak pergi ke mana? “Kuffah,” jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Maukah ku tuliskan surat untukmu kepada gabernur Kuffah agar melayanimu? Uwais al-Qorni mengatakan, “Berada di tengah-tengah banyak orang sehingga tidak dikenal itu lebih ku sukai.” (HR. Muslim)

Anakku.

Ini surat dari ibu yang terkoyak hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Ibu tahu anakku ini lelaki yang hebat lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.

Sejak doktor menghabarkan tentang kehamilan, aku sangat berbahagia saat itu, Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikologi dan fizikal. Sembilan bulan aku mengandungmu. Seluruh aktiviti aku jalani dengan susah payah kerana kandunganku.

Anakku,

Meskipun begitu getir saat itu ia tidak mengurangi kebahagiaanku intuk menyambut kehadiranmu. Kesengsaraan yang tiada hentinya pada waktu itu, bahkan kematian seolah2 didepan mataku saat aku melahirkanmu.Namun jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan aku sabagi ibu yang melahirkanmu.

Setelah itu wahai anakku, aku umpama pelayan yang tidak pernah kenal erti rehat. Kepenatanku demi kesehatanmu wahai anakku. Kegelisahanku demi kebaikanmu wahai anakku. Harapanku hanya ingin melihat senyum sihatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu.

Anakku,

Apabila engkau mencapai usia pemuda wahai anakku. Kematanganmu semakin terlihat, Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu.

Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.

Akan tetapi anakku, seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa minit saja untuk melihat anakku.

Anakku,

Ibu sekarang sudah sangat lemah, badan sudah membungkuk, gementar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku, ibu semakin susah melakukan gerakan.

Anakku,

Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu wahai anakku.

Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu ? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ? Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ?

Anakku,

Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Bilakah hatimu teringat untuk menjenguk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan pada anaknya sekaligus mengubat duka dan kesedihan ini

Ibu tidak akan mengadu kondisi ini kepada Dzat yang maha Agung. Ibu juga tidak akan menceritakan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya wahai anakku.

Anakku,

Walau bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku.

Anakku,

Anakku suatu hari nanti kau juga harus tahu bahawa uban-uban akan banyak di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat.

Anakku,

Takutlah engkau kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada Ibu.. Terserahla kepadamu jika engkau ingin merobek-robek surat ini. Ketahuilah, Barangsiapa beramal shalih maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat keburukan, maka itu (juga) menjadi tanggungannya sendiri.

Anakku,

Ingatlah saat engkau berada di perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menggetirkan. Ibu merasa dalam kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa Ibu. Ingatlah saat engkau menyusui. Ingatlah belaian sayang dan kelelahan Ibu saat engkau sakit.

Karena itu, Allah menegaskan dengan wasiat : “Wahai, Rabbku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil”.

Anakku,

Allah berfirman: “Dan dalam kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal” [Yusuf : 111]

Anakku lihatlah sirah Nabimu, masa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam masih hidup, supaya engkau memperoleh potret bakti anak kepada orang tuanya.

Edit by: Nukilan MHS

14/2/2011

IPOH

IKHLAS VS RIYA’

Posted: February 11, 2011 in Uncategorized

“Yang paling aku takutkan dari apa yang aku takutkan
atas kamu ialah syirik ashghor, ditanya oleh para sa-
habat, apa maksudnya ya Rasulullah ? Beliau bersab-
da: riya’ ” ( al Hadits)

Mengapa sampai Rasulullah SAW demikian takut riya’ atas ummat- nya, dan ia merupakan hal yang dibimbangi Rasulullah SAW ianya akan menimpa kaum Muslimin ?

Allah dan Rasulnya saja yang tahu. Namun kita ma’fhum bahwa rasa kasih-sayang Rasulullah SAW, rasa cinta beliau kepada ummat ini demikian besar, sedang riya’ dapat menyusup kedalam hati dan dengannya akan terhapus pahala amaliah seorang Muslimin.

Para ulama mengibaratkan riya’ seperti semut hitam yang merayap di atas batu hitam di malam gelap gulita yang tidak kelihatan.

Begitulah sifat riya’ ia akan menyelusup halus, merayap secra tersembunyi,akhirnya menikam
hati, mencairkan ikhlas dan memusnahkan pahala. Dia datang seperti “ waswaasil khannas”, syaitan yang datang secara rahsia, bersembunyi di dasar hati, menyusup, dan menunggu kesempatan membolak-balikkan niat seseorang, mengelabuinya, menundukkannya, lalu akhirnya mendorong seseorang itu kejurang kesesatan.

Itulah cara kerja riya’. Sangat halus dan, licin lagi berbahaya, jika ia telah menikam hati dan mengelabuinya, maka ibadah yang semestinya hanya diniatkan untuk Allah semata pasti akan membias, kabur.

Bahkan lebih membimbangkan apabila hati meletup-letup, bersemangat, dan berharap-harap agar amal yang dilakukan secara zhohir dilihat oleh manusia. Maka dari niat yang ikhlas tersimpangkan menjadi harapan untuk memamerkannya kepada manusia, agar manusia melihat ibadahnya, demi sebingkai pujian, demi sepenggal kehormatan, atau sejemput populariti.

Riya’ itu bersembunyi dalam hati, reaksinya melalui amal, manusia lain tidak akan dapat tahu melainkan Allah SWT yang maha mengetahui,. Inilah syirik ashghor, syirik kecil yang dikhabarkan Rasulullah SAW..

Ayuh kita kongsikan bersama pendangan Hujjatul Islam Imam Al Ghazali:

Imam al Ghazali membahagi riya’ dalam enam macam; riya’, iaitu dari badan, dalam tingkah-laku,, dalam berpakaian, dalam ucapan, amal dan dalam menunjukkan banyaknya murid.

Riya’ juga dapat muncul dalam bentuk ingin menunjukkan kepada khalayak bahwa dirinya pintar dan banyak tahu tentang urusan agama. Bentuk ini adalah riya’ yang jelas dan dekat dengan sombong.

Riya’ yang sedikit samar2 , iaitu seseorang itu tidak ingin menunjukkan kepintarannya, serta ibadahnya namun apabila orang lain tidak mengakui kehebatannya, dan ia kurang dihormati, dia merasa hairan mengapa orang lain bersikap seperti itu kepadanya. Dia hairan kenapa orang lain tidak tahu kemampuannya. Dia berupaya bersembunyi-sembunyi untuk beramal, namun orang lain Tidak membuat hatinya gembira, dan dia sentiasa berharap-harap agar ada orang yang memuji dan mengagungkannya agar hatinya gembira.

Jadi disini ada 2 bentuk riya’, ada riya’ yang jelas dan ada riya’ yang samar

Riya’ yang jelas adalah seseorang itu mahu ibadah yang diketahui orang lain seseorang yang memperbagus tata-cara, memperlama sujud dan ruku’, seperti nampaknya khusyu’, padahal apabila ia bersendirian dilakukannya ibadah itu secara cepat malas dan memudah mudahkankan.

Riya’ yang samar. Ia tidak mahu orang melihat amalnya, namun dia merasa hairan mengapa orang lain tidak menghormati atau memujinya seperti apa yang dia harapkan.Ia gelisah apabila orang lain merendahkannya, dan kurang menghormatinya.

Itulah riya’ yang sangat halus kerjanya, yang tak pernah diketahui orang lain, namun sungguh berbahaya, dia mampu menghanguskan ikhlash, mengikis pahala sampai zero point, dan menyisakan kesia- siaan pada kita. Apakah perkara ini sedang berlaku kepada kita?

Mari kita berlindung kepada Allah SWT dari godaan “ waswaasil khannas “, yang datang menyelusup menikam hati, yang membolak-balikan hati dan niat, yang memunculkan riya’.

Allah SWT sahajalah tempat berlindung dan sebaik-baiknya tempat untuk kita berlindung.

Hasbunallah wani’mal wakil

MIMPI yang saya maksudkan ialah SATU gagasan besar, cita-cita agung, angan-angan mulia yang luhur, yang karena besarnya gagasan itu, atau karena agungnya cita-cita itu, atau karena luhurnya angan-angan itu.

Dalam suatu pertemuan, ada seorang Ulama’ mengatakan: “La budda lil qaa-idi an yakuuna lahu ahlam, wa illa la yashluh an yakuuna qaa-idan”. Maksudnya: Seorang pemimpin harus mempunyai banyak mimpi, jika tidak, dia tidak layak menjadi pemimpin. Mendengar pernyataan seperti itu, kita akan terperanjat , benarkah begitu? Akan tetapi, sebelum kita mengingkari pernyataannya itu, cuba kita review apa-apa yang pernah kita ketahui tentang mimpi, ternyata, banyak juga dalil atau argumentasi yang dapat kita kemukakan untuk membenarkan pernyataan ulama’ tadi.

Pertama: Nabi Yusuf as pada waktu kecil telah bermimpi melihat sebelas bintang, satu matahari dan satu bulan bersujud kepadanya, dan ternyata mimpi itu kemudian menjadi kenyataan.(QS Yusuf [12]: 100).

Kedua: Nabi Yusuf as membuat strategi, mengorganisasi dan menjalankan program untuk menyelamatkan Mesir dan sekitarnya dari bahaya kelaparan juga berangkat dari mimpi sang raja yang dia ta’wil-kan (sesuai dengan ilmu yang Allah swt berikan kepadanya) menjadi “sebuah pengurusan strategi” yang sangat luar biasa.

Ketiga: mukaddimah dari turunnya wahyu kepada nabi Muhammad saw adalah ar-ru’yah ash-shadiqah (mimpi yang benar), yang menurut riwayat ummul mukminin ‘Aisyah ra (sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari): “beliau tidak melihat satu mimpipun kecuali seperti merekahnya fajar di pagi hari”.

Keempat: Salah seorang ulama’, pemikir, da’i dan mujaddid Islam yang bernama Hasan Al Banna, selalu mengingatkan murid-muridnya akan adanya satu kaidah sosiologi yang mengatakan bahwa: haqaa-iqul yaumi ahlaamul amsi, wa ahlaamul yaumi haqaa-iqul ghadi (kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, dan mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari).

Kaedah ini terus menerus As Syahid doktrinkan kepada murid-muridnya, tentunya dengan berbagai argumentasi qur’an dan sunnah yang dia tetapkan sebagai rujukan utama gerakannya, sehingga, gerakan yang dia bangun itupun –menurut sumber majalah Al Mujtama’- sekarang telah tersebar ke lebih dari tujuh puluh negara di dunia, dimana gerakan seperti yang dia bangun itu, pada saat itu banyak yang menilainya sebagai gerakan kaum kuno, gerakan untuk merubah sesuatu yang mimpi yang mustahal, namun sedikit demi sedikit, hal-hal yang tadinya dianggap mimpi di siang hari itupun berubah menjadi kenyataan.

Salah satu penekanan penting yang dikemukakan oleh Hasan Al Banna adalah kisah pembebasan Bani Israil dari kekejaman rejim Fir’aun di Mesir. Bagaimana suatu bangsa yang sudah dizalimi sedemikian rupa, pada akhirnya mampu melepaskan dirinya dari kezaliman yang begitu dahsyat.

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,

Dunia sekarang telah dipenuhi oleh berbagai ketidak adilan, kezaliman, kerusakan dan pertikaian. Dalam skala Negara kita sahaja, tanda-tanda semakin menjauhnya agenda reformasi yang pada awalnya diusung oleh para DA’IE itu, bukannya semakin mendekat kepada kenyataan, akan tetapi bayang-bayang pun semakin jauh dari cita-cita itu.

Namun demikian, kita tidak boleh berputus asa, kita harus senantiasa optimis, bahwa malam tidak akan selamanya malam, ia pasti akan berganti dengan merekahnya fajar, bukan fajar kadzib (fajar dusta, fajar yang setelah terang benderang gelap lagi), tapi fajar shadiq, fajar yang benar, fajar yang berlanjut dengan munculnya suria, munculnya mentari yang menyinari berbagai permukaan bumi, dan secara perlahan mengusir kegelapan malam yang tadinya begitu menyelimuti. Kita harus tetap tegar, tabah dan tsabat dalam mengusung cita-cita besar kita, cita-cita liyuzh-hirahu ‘alad-diini kullihi (QS At-Taubah [9]: 33, Al Fath [48]: 28, dan Ash-Shaff [61]: 9), cita-cita hatta la takuuna fitnatun wa yakuunad-diinu (kulluhu) lillah (QS Al Baqarah [2]: 193, Al Anfal [8]: 39), dan cita-cita khaira ummatin ukhrijat linnaas (QS Ali Imran [3]: 110).

Sejarah harakah Islam telah menggambarkan kepada kitapertambahan bilangan anggota tanpa mutu yang telah menyukar dan melalaikan harakah. Ini memaksa da’i hari ini untuk mengambil pengajaran. Perkembangan yang seimbang adalah pesanan untuk hari esok.

Kita katakanan, ia adalah pesanan untuk hari esok kerana kita dapati ramai orang telah melupakannya. Padahal itulah wasiat lama dari Imam Hassan al-Banna rahimahulLah yang ditegaskan sejak tahun 1938 di dalam Muktamar (Ikhwan) Ke-5. Ketika menjelaskan pelbagai jenis manusia ketika berdepan dengan kerja. Khayalan langsung tidak menyumbang apa-apa kerana ia hanyalah gambaran sahaja dalam memikul bebanan jihad.

Hassan al-Banna telah berkata:

“Jadi saya mahu berterus-terang betul-betul dengan kamu kerana tiada guna lagi saya berselindung.

– Medan bercakap tidak sama dengan medan berkhayal.
– Medan beramal tidak sama dengan medan bercakap.
– Medan berjihad tidak sama dengan medan beramal.
– Medan berjihad sebenar tidak sama dengan medan berjihad yang silap.

Ramai yang mudah berkhayal namun tidak semua apa yang terbayang di kepala mampu diungkapkan dengan kata-kata.

Ramai yang mampu bercakap namun hanya segelintir daripadanya yang mampu bertahan ketika beramal.

Ramai di kalangan segelintir ini yang mampu beramal namun hanya segelintir sahaja di kalangan mereka yang mampu memikul bebanan jihad yang sukar dan amal yang nekad.
Para mujahid yang kecil jumlahnya ini mungkin akan tersilap jalan dan tidak menepati sasaran jika tidak kerana mereka dipelihara oleh Allah. Kisah Talut menjelaskan apa yang saya katakan ini.

Oleh itu, siapkanlah diri kamu, pupuklah jiwa kamu dengan tarbiyah yang betul, latihan yang ketat dan ujilah diri kamu beramal dengan kerja-kerja yang keras, tidak disukai dan menyukarkan. Kekanglah dari segala kehendak dan adat kebiasaan yang biasa dilakukan oleh jiwa.” (243 Al-Muktamar Al-Khamis, al-Majmu’ah, m.s. 258)

Fiqh itu dipusakai oleh Syed Qutb rahimahulLah. Ini menyebabkan beliau gelisah menjelang hari kematiannya apabila melihat keadaan Sudan yang dilanda dengan demonstrasi umat Islam yang merebak dan meluas memenuhi jalan-jalan raya. Beliau pun memberi wasiat kepada para da’i dari Sudan yang melawatnya. Beliau berkata kepada mereka:

“Janganlah sambutan orang ramai itu menyibukkan kamu dari menyusun barisan dalaman dan menyediakan para pejuang yang mampu menghadapi segala kesukaran dan akan dapat bertahan lama.” (244 Syed Qutb, Kitab al-Syahid, m.s. 91)

Sebenarnya kepentingan pemantapan barisan dalaman bukan hanya kerana untuk memudahkan penyusunan dan memudahkan penggunaan tenaga secara selaras, tetapi, kewujudan “masyarakat tarbawi” ini akan mampu menjadi nursery kepada pentarbiahan ‘anak-anak baru’. Ia akan mampu memperlihatkan bentuk-bentuk Islam dan mendinding mereka dari melihat pemandangan jahiliyyah orang-orang jahil dan menghalang dari mendengar jahiliah dan sekaligus menjauhkan ‘anak-anak baru’ dari kesan dan pengaruh tarbiyyah yang bukan Islam.

Rujukan : Al-Muntalaq – Muhammad Ahmad Ar-Rasyid m.s.159

Banyak orang Islam menyangka bahawa CUKUP SEKADAR MEMPUNYAI NAMA SEBAGAI ORANG ISLAM MENGUCAP DUA KALIMAH SYAHADAT UNTUK MENJADI SEORANG MUSLIM YANG DIREDHAI ALLAH.

Anggapan ini tidak benar . Ini kerana untuk menjadi orang Islam seseorang itu perlu memenuhi syarat syarat penting yang berkaitan dengan keimanan dan perbuatan tertentu yang berkaitan dengan rukun iman, Islam dan jihad. Pengertian ini dapat kita simpulkan dari firman Allah:

“Orang orang Arab badwi itu berkata; kami sudah beriman, namun katakanlah kamu belum beriman , Cuma katakanlah kamu baru masuk Islam dan iman belum (benar-benar masuk) dalam hati kamu. dan (ingatlah), jika kamu taat kepada Allah RasulNya (zahir dan batin), Allah tidak akan mengurangkan sedikitpun dari pahala amalanl kamu, kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya orang-orang yang sebenar-benarnya beriman hanyalah orang-orang yang percaya kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka (terus percaya dengan) tidak ragu-ragu lagi, serta mereka berjuang dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah; mereka itulah orang-orang yang benar (pengakuan imannya).”

Ertinya keimanan dan keislaman seseorang itu perlu dibuktikan dengan tekad dan usaha perjuangan yang menunjukkan kesungguhan seseorang itu menjadi hamba Allah yang mendaulatkan agamanya. ISLAM BUKAN SEKADAR BEBERAPA KALIMAH YANG DITUTURKAN TAPI ADALAH SUATU ILTIZAM DAN KOMITMEN YANG LENGKAP DAN MENYELURUH TERHADAP AJARAN ISLAM.

Sebab itu dalam Surah al Baqarah :208-209 terdapat ayat yang menegaskan:

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam agama Islam (dengan mematuhi) segala hukum-hukumnya dan janganlah kamu menurut jejak langkah Syaitan; sesungguhnya Syaitan itu musuh bagi kamu yang terang nyata.

Maka kalau kamu tergelincir (dan jatuh ke dalam kesalahan disebabkan tipu daya Syaitan itu), sesudah datang bukti keterangan yang jelas kepada kamu, maka ketahuilah bahawasanya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana…”.

Seorang muslim yang benar ialah orang yang memperjuangkan seluruh dimensi ajaran Islam baik akidah, syariah, politik, ekonomi, pendidikan dan seterusnya. Orang yang tidak mahu memperjuangkan politik Islam umpamanya, tidak mahu menjadikan Islam landasan perjuangan politiknya adalah mereka yang terang-terang mempunyai sikap bercanggah dengan perintah Allah dalam surah al Taubah ayat 38-41

38.Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu, apabila dikatakan kepada kamu: Pergilah beramai-ramai berjuang di jalan Allah, kamu merasa keberatan (dan suka tinggal menikmati kesenangan) di tempat (masing-masing)? Adakah kamu lebih suka dengan kehidupan dunia daripada akhirat? (Kesukaan kamu itu salah) kerana
kesenangan hidup di dunia ini hanya sedikit jua berbanding dengan (kesenangan hidup) di akhirat kelak.

[39] Jika kamu tidak pergi beramai-ramai (untuk berjuang pada jalan Allah membela agamaNya), Allah akan menyeksa kamu dengan azab seksa yang tidak terperi sakitnya dan Dia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain dan kamu tidak akan dapat menggugat Allah sedikitpun . (ingatlah) Allah Maha Kuasa mengatasi segala-galanya.

[40] Mengapa kamu tidak mahu menyokongnya (Nabi Muhammad) pada hal Allah sendiri telah menyokongnya, iaitu ketika kaum kafir (di Mekah) mengeluarkannya (dari negerinya Mekah) sedang dia salah seorang dari dua (sahabat) semasa mereka berlindung di dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya: Janganlah engkau
berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita. Maka Allah menurunkan rasa tenteram dan damainya kepada (Nabi Muhammad) dan menguatkannya dengan bantuan tentera (malaikat) yang kamu tidak melihatnya . (Dalam masa yang sama ) Allah jadikan seruan (dasar syirik) orang-orang kafir itu rendah dan hina . (Sebaliknya) Allah jadikan dasar perjuanganNya (Islam) mulia dan tinggi Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.

[41] Berangkatlah kalian beramai-ramai (untuk berjuang di jalan Allah), samada dalam keadaan ringan (dan mudah bergerak) mahupun dalam keadaan berat (disebabkan berbagai-bagai tanggungjawab) dan berjihadlah dengan harta benda dan jiwa kalian di jalan Allah (untuk membela Islam). Itu adalah lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui.

Penganut agama Islam yang sebenarnya ialah mereka yang sedia berangkat dan keluar berjuang untuk menegakkan cita-cita Islam dalam segala dimensinya yang mungkin.

Mereka tidak dihalang oleh kesempitan hidup atau dilalaikan oleh kesenangan kebendaan. Mereka rela berkorban apa sahaja demi Allah dan Rasul. Mereka sedar bahawa jika mereka tidak bingkas berjuang keimanan mereka akan dipersoalkan oleh Allah dan amalan mereka menjadi sia-sia.

Pada zaman Rasulullah dahulu orang yang enggan berjihad dan enggan pergi berhijrah bersama Rasulullah dihukum dengan hukuman yang berat . Allah berfirman dalam Surahal Taubah ayat 81-90

Orang-orang (munafik) yang ditinggalkan di belakang (tidak ikut serta berjuang) merasa seronok disebabkan mereka tinggal di belakang Rasulullah (di Madinah) dan mereka tidak suka berjihad dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah; malah mereka (menghasut pula dengan) berkata: Janganlah kalian semua keluar (berperang) pada musim panas ini. Katakanlah (wahai Muhammad): “Api Neraka Jahanam itu jauh lebih panas lagi, kalaulah mereka sedar. Oleh itu biarkanlah mereka ketawa sedikit (di dunia ini); namun mereka akan menangis banyak kelak (di akhirat), sebagai balasan terhadap apa yang mereka lakukan.

Maka jika Allah mengembalikan engkau kepada segolongan dari mereka (orang-orang yang munafik itu di Madinah), kemudian mereka meminta izin kepadamu untuk keluar (ikut serta berperang), maka katakanlah: Kamu jangan sekali-kali keluar bersamasamaku buat selama-lamanya dan kamu samasekali tidak akan memerangi musuh bersama-samaku; justeru kamu dahulu telah rela tinggal duduk diam di belakang (tidak ikut berjuang) pada kali yang pertama, oleh itu duduklah kamu bersama-sama orangorang yang duduk (di belakang).

Dan janganlah engkau(wahai Muhammad) sembahyangkan seorang pun yang mati dari kalangan mereka itu selama-lamanya dan janganlah pula engkau berdiri di (tepi) kuburnya, kerana sesungguhnya mereka telah kufur kepada Allah dan RasulNya dan mereka mati sedang mereka dalam keadaan fasik (derhaka). Dan jangan pula engkau terpesona kepada harta benda dan anak-anak mereka, (kerana) sesungguhnya Allah hanya hendak menyeksa mereka dengannya di dunia dan hendak menjadikan nyawa mereka tercabut sedang mereka dalam keadaan kafir . Dan apabila diturunkan satu surah Al-Quran (yang menyuruh mereka): “Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah bersama-sama dengan RasulNya”, nescaya orangorang yang kaya di antara mereka meminta izin (berdalih) kepadamu dengan berkata: Biarkanlah kami tinggal bersama-sama orang-orang yang tinggal ( di belakang ;tidak turut berperang).

Mereka suka tinggal bersama-sama orang-orang yang ditinggalkan (kerana uzur), dan (dengan sebab itu) hati mereka di sel mati , sehingga mereka tidak dapat memahami apaapa lagi.

(Mereka tetap tidak ikut serta) tetapi Rasulullah dan orang-orang yang beriman bersamanya, berjihad dengan harta benda dan jiwa mereka dan mereka itulah orangorang yang mendapat kebaikan dan mereka itulah juga yang berjaya.

Allah telah menyediakan untuk mereka Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya anakanak sungai, mereka kekal di dalamnya; yang demikian itulah kemenangan yang besar.

Dan (kemudian ) datanglah pula orang-orang yang menyatakan alasan keuzurannya dari orang-orang A’rab, memohon supaya mereka diizinkan (tidak turut berperang), sedang orang-orang (munafik di antara mereka) yang mendustakan Allah dan RasulNya duduk (mendiamkan diri). (Oleh itu) orang-orang yang kafir di antara mereka, akan dikenakan azab seksa yang tidak terperi sakitnya.

Golongan mukmin pada zaman dahulu yang telah mengaku beriman tetapi enggan ikut serta berjuang mendaulatkan Islam telah dihukum sebagai munafik dan kufur oleh Allah.

Allah melarang Nabi mendoakankan mereka dengan berdiri di tepi kubur mereka, Allah melarang Nabi menyembahyangkan jenazahnya. Ini tentulah kerana perbuatan tidak ikut serta berjuang menegakkan kedaulatan Islam sebagai suatu dosa besar yang menghapuskan kekuasaan dan kemegahan Islam.

Sebab itu menjadi seorang muslim bermakna kita mesti ikut serta berusaha mengukuhkan gerakan Islam , meramaikan bilangan mereka agar kita berjaya di dunia dan di akhirat. Oleh sebab itu wahai saudara marilah kita bersama-sama dengan golongan ulama dan cendikiawan ikut serta memperjuangkan Islam.

..

Pesan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ibnu ‘Abbas : “Wahai ghulam(panggilan untuk anak kecil), mahukah aku ajarkan kepada engkau beberapa perkara?” Ibnu ‘Abbas menjawab : “Mahu, ya Rasulullah.” Rasulullah kemudian bersabda : “Peliharalah Allah, nescaya Dia Akan memelihara kamu. Peliharalah Allah, nescaya kamu akan mendapatinya di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, maka pohonlah kepada Allah. Ingatlah Allah ketika engkau dalam kesenangan, nescaya Allah akan mengingatimu ketika engkau dalam kesusahan. Dakwat telah diangkat dan lembaran suhuf telah kering. Sekiranya manusia berkumpul untuk memberi sesuatu kepadamu yang tidak ditetapkan oleh Allah, maka mereka tidak akan dapat melakukannya. Dan sekiranya mereka juga berkumpul untuk menghalang sesuatu daripadamu yang telah ditetapkan oleh Allah, maka mereka tidak akan dapat melakukannya. Ketahuilah bahawa bagi setiap kesukaran itu ada kelapangan dan bagi setiap kesusahan itu ada kemudahan.” (Al-Hadis)

1. KITA BERTANYA : KENAPA AKU SERING DIUJI?

ALLAH SWT TENANGKAN KITA DENGAN FIRMANNYA DALAM ALQURAN :

Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan saja mengatakan:
Kami telah beriman(I am full of faith to Allah), sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan, sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
-SURAH AL-ANKABUT AYAT 2-3

2. KITA BERTANYA : KENAPA AKU TAK DAPAT APA YANG AKU IDAM-IDAMKAN?

ALLAH SWT TENANGKAN KITA DENGAN FIRMANNYA DALAM ALQURAN :

Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal dia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.
-SURAH AL-BAQARAH AYAT 216

3. KITA BERTANYA : KENAPA AKU SELALU DI BERI UJIAN SEBERAT INI?

ALLAH SWT TENANGKAN KITA DENGAN FIRMANNYA DALAM ALQURAN :

Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
-SURAH AL-BAQARAH AYAT 286

4. KITA BERTANYA : KENAPA AKU SELALU RASA KECEWA?

ALLAH SWT TENANGKAN KITA DENGAN FIRMANNYA DALAM ALQURAN :

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi darjatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.
-SURAH AL-IMRAN AYAT 139

5. KITA BERTANYA : BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?

ALLAH SWT TENANGKAN KITA DENGAN FIRMANNYA DALAM ALQURAN :

Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan) , dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan).

6. KITA BERTANYA : APA YANG PERLU AKU LAKUKAN?

ALLAH SWT TENANGKAN KITA DENGAN FIRMANNYA DALAM ALQURAN :

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk.
-SURAH AL-BAQARAH AYAT 45

7. KITA BERTANYA : APA YANG AKU DAPAT DARIPADA SEMUA INI?

ALLAH SWT TENANGKAN KITA DENGAN FIRMANNYA DALAM ALQURAN :

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri, harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka.
-SURAH AT-TAUBAH AYAT 111

8. KITA BERTANYA : KEPADA SIAPA AKU PERLU BERHARAP?

ALLAH SWT TENANGKAN KITA DENGAN FIRMANNYA DALAM ALQURAN :

Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari Nya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal.
-SURAH AT-TAUBAH AYAT 129

9. KITA BERKATA : AKU SUDAH TIDAK BOLEH BERTAHAN DENGAN UJIAN INI !!!

ALLAH SWT TENANGKAN KITA DENGAN FIRMANNYA DALAM ALQURAN :

.dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.
-SURAH YUSUF AYAT 87

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang terhadap hamba-hambaMu…walaupun hamba-hambaMu sentiasa lupa kepadaMu, walaupun hamba-hambaMu sering mengingkari perintahMu, walaupun hamba-hambaMu melengahkan perintahMu tapi Engkau tidak pernah melupakan mereka, masih mengekalkan segala nikmat yang telah diberikan kepada mereka dan Engkau sentiasa membimbing serta memimpin mereka ke jalan yang Engkau redhai.

Sabda Nabi SAW : Hati-hati kalian dari sifat hasad, sungguh hasad itu dapat `memakan` (pahala) kebaikan seperti api yang melahap kayu bakar.

Sifat hasad adalah keinginan buruk dari hati perasaan diri kita terhadap orang lain yang sedang mendapat kenikmatan, agar kenikmatan orang lain itu menjadi hancur atau hilang, dan dapat beralih kepada dirinya.

Sifat hasad sering kali mendorong seseorang itu untuk berbuat apa saja, BAHKAN SESEORANG ITU SANGGUP MENGHALALKAN APA JUA CARA, DEMI KEHANCURAN ORANG YANG DIHASAD OLEHNYA.

Kita Sering terdengar ada seorang yang hasad kepada tetangganya, samada di perkampungan, taman, pejabat maupun di pasar dan kedai2 dan yang lebih membahayakan HASAD SEORANG DAIE KEPADA DAIE YANG LAIN.

Hal itu dilakukan semata2 demi menjatuhkan sahabatnya yang dianggap `lawan` bagi dirinya. Biasanya, cara yang sering digunakan orang yang suka menghidupkan api hasad , adalah dengan cara mencari-cari kesalahan orang yang ia dengki itu, BAHKAN SAMPAI KE TAHAP BERLEBIH2AN HINGGA MENGADA-ADAKAN BERITA FITNAH SEBAGAI PENYEDAP LIDAHNYA UNTUK BERBICARA.

Ikhwah sekalian, biasanya, orang yang suka menyuburkan sifat hasad ini, ia akan berusaha menampakkan kebaikannya kepada orang lain termasuk kepada sahabat yang dianggap `lawannya`, dengan tujuan agar sifat hasadnya tidak disyaki.

Memang benar sifat hasad seringkali beriringan dengan sifat dengki. Sedangkan dengki adalah perilaku permusuhan terhadap orang lain, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, dengan tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat.

Jadi orang yang memiliki sifat dengki dan hasad ini, termasuk orang yang berakhlaq buruk.

Ikhwah sekalian, bukankah Rasulullah SAW telah menyatakan keburukan sifat dengki dan hasad ini ?, sifat ini dapat mengurangkan pahala kebaikan yang pernah kita dilakukan sebelum ini.

DALAM KATA MUTIARA JUGA DIUNGKAPKAN “ ALHASUUD LA YASUUD”, ORANG YANG BERSIFAT HASUD ITU TIDAK LAYAK MEMIMPIN. KARENA SIFAT BURUK HASUD TERSEBUT AKAN MENJADI PENYEBAB PERPECAHAN DAN KEHANCURAN DALAM ORGANISASI YANG DIPIMPINNYA

Betapa nistanya sifat hasad ini, karena itu alangkah ruginya jika seorang muslim yang sengaja `memelihara` dan `melestarikan` sifat hasad dengki hidup dalam dirinya.

CARA-CARA MENGHILANGKAN SIFAT HASAD DENGKI

Ada cara bagi seorang muslim yang ingin belajar mengendalikan diri tatkala dirinya akan diterpa penyakit hasad dengki ini, ia wajib mengamalkan ajaran Rasulullah SAW iaitu sifat GHIBTHAH.

GHIBTHAH adalah: Seseorang yang melihat pihak lain mendapat kenikmatan, misalnya mendapat pekerjaan yang baik, lantas orang tersebut mengatakan dalam dirinya : Saya ingin seperti dia, beroleh kecemerlangan dalam pekerjaannya, dan semoga dia tetap berjaya bahkan mendapatkan tambahan rezeki lebih, dan mudah-mudahan saya juga boleh mendapatkan juga rejeki seperti yang dia dapatkan.

PEMILIK SIFAT GHIBTHAH TIDAK MENGINGINKAN ORANG LAIN YANG DIGHIBTHAHI MENJADI HANCUR, bahkan sebaliknya ia menjadikan semangat berusaha bagi dirinya dalam menggapai kesuksesan bersama,dan sangat2 baik jika kedua2nya dapat saling bantu membantu dan melengkapi antara satu sama lain kerana ia akan menguntungkan semua.

Pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid, hidup seorang ulama bernama Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri. di samping sebagai ulama, beliau juga seorang abid yang banyak sujud kepada Allah SWT. NAMUN IBADAHNYA YANG BANYAK ITU, TIDAK MENDORONG NIAT BELIAU UNTUK BER’UZLAH (MENGASINGKAN DIRI) DARI MASYARAKAT. BAHKAN BELIAU TERMASUK DA’I PEMBERANI DALAM MENEGAKKAN AMAR MA’RUF DAN NAHYU MUNKAR.

Ketika Khalifah Harun Al-Rasyid sedang melakukan ibadah haji, sebagaimana lazimnya penguasa sekarang, seluruh tempat yang akan dilaluinya ditutup untuk umum. Pada saat Khalifah sedang melakukan sa’i (lari kecil) antara Shafa dan Marwah seorang diri, sambil disaksikan ribuan jamaah haji, berkatalah salah seorang dari mereka kepada ulama tadi, “Hai tuan guru, apakah boleh seorang khalifah mencegah rakyatnya beribadah kepada Allah?” ULAMA ITU MENJAWAB, “APAKAH KAMU INGIN AGAR AKU MENCEGAH KEZALIMAN INI PADAHAL KAMU TIDAK BERANI MELAKUKANNYA? ORANG YANG TIDAK MAMPU MEMBELA KEBENARAN ADALAH SYETAN BISU”.

Selanjutnya berangkatlah Abdullah Al-Amri ke tempat sa’i, sesampainya di dekat Shafa, kebetulan saat itu khalifah baru saja tiba di sana, berteriaklah beliau, “Haruuun !!! (tanpa menyebut jabatan khalifah). Mendengar jeritan tadi, seluruh jamaah haji –termasuk khalifah– menghadapkan wajah ke arah datangnya suara tersebut. Setelah khalifah tahu siapa yang memanggilnya, segera beliau menjawab, “Labbaika ya’ amin.” “Naiklah ke bukit Shafa! Lihatlah ke Ka’bah, berapakah jumlah manusia di sana?” Tanya sang ulama. “Tidak ada yang boleh menghitungnya kecuali Allah SWT,” jawab khalifah. “Ketahuilah, setiap orang dari mereka akan diminta pertanggungjawabanmu oleh Allah SWT atas dirimu dan seluruh rakyatmu. Lihatlah kepada dirimu! Apakah layak engkau perlakukan umat seperti ini?” MENDENGAR UCAPAN ULAMA TERSEBUT, MENANGISLAH KHALIFAH SERAYA MENGAKUI KESALAHANNYA YANG BELIAU LAKUKAN.

Dari kisah di atas, dapat diambil pelajaran betapa lidah itu mempunyai peran yang sangat penting dalam menegakkan Al-Haq. Dan benarlah pepatah “Lidah lebih tajam dari pedang”. Allah SWT juga memuji orang-orang yang mengaktifkan lidahnya untuk berda’wah.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang-orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”. (Q.S 41:33)

Sebagai salah satu sarana amar ma’ruf nahyu munkar, lidah telah terbukti keampuhannya sejak dimulainya dakwah Islam oleh Rasulullah SAW. Dia ampuh untuk mengajak kepada kebaikan, juga untuk mencegah kemungkaran dan kebatilan.sejarah telah mencatat betapa seorang nenek tua berani menegur Umar bin Khathab yang sedang berpidato di atas mimbar, karena kekeliruan khalifah dalam masalah mas kawin. Juga ketika khalifah Umar baru saja diangkat menjadi pemimpin umat, Beliau berpidato di atas mimbar, seraya berkata, “Hai manusia, apakah yang akan kalian kerjakan jika aku menyimpang dalam memimpin umat?” Kami akan luruskan penyimpangan Anda dengan pedang kami”. Inilah contoh dari keberanian umat dalam menegakkan Al-Haq.

Pada saat lidah menjadi tumpul, banyak sekali kerusakan dan kemungkaran yang ditimbulkan oleh masyarakat dan kalau kemungkaran sudah dominan, pembela Al-Haq tak akan berharga lagi. Orang-orang jujur menjadi hina. Masyarakat lebih cenderung kepada maksiat, dan kebenaran hanya menjadi permainan lidah. Yang muda durhaka dan yang tua bergelimang dosa,Alquran hanya sebagai nyanyian dan PENDAKWAH YANG TIDAK IKHLAS penuh dengan kemunafikan. Yang kecil tidak menghormati yang besar dan yang kaya tidak mengasihi yang miskin. Pada saat itu ilmu dikuasai orang-orang bejat dan kekuasaan dipegang oleh orang-orang tamak. Kalau yang demikian itu sudah terjadi, mungkin laknat Allah SWT yang akan tiba sebagaimana yang terjadi pada Bani Israel dahulu.

Firman Allah:
“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka selalu durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.(QS 5:78-79).

Dalam kaitan ayat di atas, Ustadz Sayyid Qutb menulis dalam tafsir Zhilalnya, ”Manhaj Islami menghendaki agar jamaah muslimah memiliki eksistensi yang hidup dan kokoh. Ia harus mampu menolak berbagai bentuk penyimpangan dan kemaksiatan sebelum menjadi fenomena umum di masyarakat. Ia harus kokoh membela Al-Haq dan peka terhadap gejala-gejala kebatilan. Sebagaimana manhaj tadi juga menghendaki kepada tokoh masyarakat dan agama agar melaksanakan amanah yang dibebankan dan mampu menghadapi berbagai bentuk kejahatan, kerusakan dan kezaliman, tanpa sedikit pun dihantui rasa takut kepada penguasa, kaum elit danlih berganti dengan segala kezaliman dan kebiadabannya. Sayangnya, sejarah terkadang sepi dari tokoh-tokoh Al-Haq yang akan mengimbangi bahkan mengalahkan kebatilan tersebut. Kalau dulu, ketika terjadi riddah (keluar dari agama) ada Abu Bakar Shiddiq, siapakah tokoh yang diharapkan menghadapi pemurtadan masa kini? Rasanya setiap muslim sekarang ini harus mengasahi lidahnya, agar tidak tumpul ketika menyaksikan kebenaran dikebiri dan kebatilan disanjung-sanjung.