Tarbiyah bukan segala-galanya, tetapi segalanya tidak akan tercapai tanpa tarbiyah

Posted: June 13, 2011 in Uncategorized

“Kader adalah rahsia kehidupan dan kebangkitan. Sejarah umat adalah sejarah para kader yg memiliki kekuatan jiwa dan kehendak. Sesungguhnya kuat lemahnya suatu umat diukur dari sejauh mana umat tersebut mampu menghasilkan kader-kader yang memiliki sifat ksatria…” (Risalah Hal Nahnu Qaumun ‘Amaliyun)

Dunia dakwah kita tengah memasuki era yang sangat kompetitif, era yang akan menentukan kita bertahan, maju, atau terkikis zaman. Pada situasi seperti ini, dakwah mereka yang berdaya guna, yang senantiasa siap memikul dakwah sangat diperlukan.

Beban dakwah hanya sanggup dipikul oleh mereka yang mengerti tentang apa dan bagaimana tabiat dakwah itu. Junud ad-dakwah yang cerdas, penuh semangat dan bertanggungjawablah yang siap berada di medan dakwah ini. Kehadiran kader seperti inilah yang menjadikhndak Khalifah Umar r.a.:

Umar r.a berkata kepada para sahabatnya,

“Aku ingin ada sebuah rumah yang penuh kader sejati seperti Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” (HR. Hakim)

Kader dengan karakter tersebut hanya dpt diwujudkan melalui pembinaan diri yang intensif dan berkesinambungan.

Artinya, kita memiliki kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Pada era politik dakwah sekrang jamaah PAS sgt memerlukan komitmen yang tinggi dari para kadernya. Yang mengharuskan kita membelanya sampai titik darah penghabisan. Jamaah ini harus sampai kepada ahdaf-nya yang telah dirancang untuk ‘Izzul Islam wal muslimin. Kita beriltizam pada jalan dakwah, bukan dengan figur, melainkan dengan dakwah itu sendiri. Karena persoalan pribadi tidak semestinya mengeliminasi kecintaan dan pembelaan kita kepada jalan dakwah ini.

Menjadi orang yang saleh dan mushlih adalah buah yang kita harapkan dari proses tarbiyah yang kita jalani selama ini. Saleh secara pribadi dan mengupayakan tumbuh kembangnya kesalehan pada orang lain merupakan teladan dari Rasulullah SAW dan para salafussaleh yang sepatutnya kita ikuti. Alhamdulillah, saat ini sangat banyak diantara kita yang mendapatkan kesempatan menjadi dai atau murabbi, baik di lingkungan tempat kita tinggal, kampus, sekolah, maupun pjbt. Sesungguhnya yang kita inginkan bukanlah semata banyaknya jumlah mad’u atau pengikut kita.

Akan tetapi, yang jauh lebih penting adalah bagaimana agar kuantiti dan kualiti merupkaan fungsi yang mnghasilkan positif. Atau menurut slogan seorang ikhwah, “Daripada berjuang bersama 20 orang tapi tidak berkualiti, lebih baik berjuang bersama 2000 orang yang berkualiti.”

Kunci utama peningkatan kualiti umat ini terletak di tangan para penyeru Islam. Atau dalam konteks ini, penentu pemeliharaan dan peningkatan kualiti kesalehan para mad’u atau mutarabbi menjadi tanggung jawab para dai atau murabbi itu sendiri.

Karakter Da’I Murrabi

Berikut ini adalah beberapa karakt yang harus kita usahakan agar ada pada diri para dai atau murabbi sehingga terbentuk halaqah muntijah:

1. Al-fahm asy-syaamil al-kaamil

Yaitu pemahaman yang sempurna dan menyeluruh terhadap dasar-dasar keislaman dan jalan2 petunjuknya, juga terhadap apa yang didakwahkannya, karena seorang murabbi akan mentarbiyah seseorang yang memiliki akal, perasaan dan pemahaman, dan orang tersebut akan merefleksikan apa yang didengar dan diperhatikan dari sang dai atau murabbi.

Maka, apabila seorang dai dan murabbi tidak memiliki level pengetahuan yang memadai dan wawasan pemahaman yang menyeluruh tentang dasar-dasar keislaman, hal itu akan memindahkan sebuah kejahilan kepada mutarabbinya, yang pada gilirannya akan menimbulkan masalah dalam pembentukan kepribadian Muslim seorang mutarabbi.

2. Waqi’ ‘Amaly

Yaitu keteladanan sang murabbi dengan amal perbuatannya yang secara nyata nampak jelas pada perilakunya. Seperti geraknya, diamnya, bicaranya, kelakuannya, pandangannya, dan ibrah-nya.

Seluruh keteladanan itu adalah buah refleksi dari pengaruh keimanan dan pemahaman dalam kehidupan seorang murabbi, dalam rangka memberikan pengaruh keteladanan yang baik (qudwah salehah) di tenga-tengah masyarakat.

Pendiri jamaah Ikhwan Muslimun, Hasan Al-Banna As Syahid menyifati murabbi dengan sebutan dai mujahid. Lebih jelasnya beliau menyebutkan bahwa dai mujahid adalah, “Sosok dai yang telah mempersiapkan segala sesuatunya, terus menerus berpikir, penuh perhatian dan siap siaga selalu.” Begitulah seharusnya seorang murabbi, iman dan keyakinannya tercermin pada perilaku dan amalnya. Berdasarkan penelitian pada perjalanan kehidupan seorang murabbi, bahwa pengaruh mereka terhadap banyak orang lebih banyak berasal dari perilaku dan akhlaknya yang istiqamah di setiap keadaan.

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa manthiqul af’al aqwa min manthiqil aqwal (logika amal/perbuatan lebih kuat dari logika kata-kata).

Dikatakan pula oleh ulama salafusshalih, “Man lam tuhadzdzibka ru’yatuhu, fa’lam annahu ghairu /muhadzdzab.”

(Barangsiapa yang tidak mendidikmu ketika engkau melihatnya maka ketahuilah bahwa orang itu juga tidak terdidik)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

“Man wa’azha akhaahu bifi’lihi, kaana haadiyan.” (Barangsiapa yang menasihati saudaranya dengan amal perbuatannya maka berarti ia telah menunjukinya).

Oleh karena itu, keteladanan adalah fokus yang sangat sensitif dan halus, karena apa yang nampak pada dirinya jauh lebih besar pengaruhnya dari apa yang diucapkannya (al-manzhar a’zhamu ta’tsiiran minal qaul).

3. Al-Khibrah binnufus

Yaitu berpengalaman dalam memahami aspek kejiwaan, karena sesungguhnya lapangan kerja seorang murabbi tidak lain adalah jiwa, dan menjadikannya sasaran yang pertama dan terakhir dalam proses tarbiyah; sedangkan jiwa tidak seperti gigi sisir, akan tetapi jiwa orang berbeda satu dengan yang lainnya, ada yang lemah, ada yang kuat, ada yang peka dan oversensitif.

Ada yang lembut, ada yang keras, bebal, dan sebagainya.

Oleh karena itu, seorang murabbi hendaknya menyikapi seseorang sesuai dengan kejiwaannya dan berhati-hati dalam berinteraksi dengannya, maka jangan bersikap terlalu tegas dan keras kepada orang yang jiwanya halus dan peka, melainkan harus dihadapi dengan lemah lembut. Sebaliknya, orang yang jiwanya keras harus dihadapi dengan ketegasan jika ia lalai dan menyimpang. Adalah Rasulullah SAW sosok murabbi pertama yang berpengalaman dalam ilmu jiwa, beliau tidak memperlakukan para sahabatnya dengan sikap yang sama antara yang satu dan lainnya, karena beliau sangat tahu akan tabiat manusia dan kejiwaan mereka.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata :

Rasulullah SAW perna beberapa hari lamanya tidak memberikan nasihat kepada kami, karena beliau takut kami menjadi bosan. (HR. Ahmad)

Berkaitan dengn al-khibrah binnufus, banyak contoh keteladanan dari murabbi zaman ini, diantara mereka adalah Hasan Al-Banna, di mana telah terjadi dialog antara beliau dengan salah seorang ikhwah.

Ikhwah tersebut berkata, “Sesungguhnya saya lagi banyak masalah dan ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus.”

Maka kata Hasan Al-Banna, “Sudahlah, jangan bebani dirimu dengan masalah itu. Serahkan urusanmu kepada Allah.” “Tapi, saya ingin Anda tahu,” sergah akh tersebut. “Sesungguhnya saya sudah tahu,” kata Al-Banna seraya meyakinkan akh tersebut. “Jadi saya bahagia kalau Anda mau tahu,” balas akh tersebut.

Akan tetapi, belum sempat saya memulai cerita, beliau sudah mendahuluiku dengan rentetan masalah dan keluhan yang dialaminya sendiri bahkan yang mengerankan apa yang diutarakannya sama dengan apa yang saya rasakan. Setelah beliau selesai berbicara, maka sayapun berkata kepadanya, “Ustaz, demi Allah, sungguh saya sangat bahagia, dan saya tidak akan mengeluh lagi.” Saya mengatakan semua itu sambil terisak dan bercucuran air mata.”

Agar sebuah halaqah dapat dikategorikan sebagai halaqah muntijah (produktif) tentunya ada aturan-aturan yang arus ditaati oleh semua komponen halaqah, dalam hal ini adalah murabbi dan mutarabbi. Dr. Abdullah Qadiri dalam buku Adab Halaqah menyebutkan adab-adab pokok yang harus ada dalam sebuah halaqah, yaitu sebagai berikut :

1. Serius dalam segala urusan dan menjauhi sendau gurau serta orang-orang yang banyak bergurau.

Yang dimaksudkan serius dan tidak bersendau gurau tentu saja bukan berarti suasana halaqah menjadi kaku atau terlalu serius, melainkan tetap diwarnai keceriaan, kehangatan, kasih sayang, dan gurauan yang tidak melampuai batas atau berlebihan. Jadi, canda dan gurauan hanya menjadi unsur selingan yang menyegarkan suasana dan bukan merupakan perkara utama halaqah.

2. Istiqamah dalam berusaha memahami kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya dengan jalan banyak membaca, mentadabburi ayat-ayat-Nya, membaca buku tafsir dan ilmu tafsir, buku hadits dan ilmu hadits, dan lain-lain

3. Menjauhkan diri dari sifat ta’asub (fanatisme buta) yang membuat orang-orang yang taqlid terhadap seseorang atau golongan telah terjerumus ke dalamnya karena tidak ada manusia yang ma’shum (bebas dari kesalahan) kecuali Rasulullah SAW yang dijaga Allah SWT. Sehingga jika ada perbedaan pendapat hendaknya dikembalikan kepada dalil-dalil yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Hanya kebenaranlah yang wajib diikuti, oleh karenanya tidak boleh menaati makhluk dalam hal bermaksiat kepada Allah.

4. Menghindari ghibah ( mengumpat). Majlis halaqah hendaknya dibersihkan dari kebusukan ghibah dan namimah terhadap seseorang atau jamaah tertentu. Adab-adab Islami haruslah diterapkan, antara lain dengan tidak memburuk-burukkan seseorang.

5. Melakukan ishlah (koreksi) terhadap murabbi atau mutarabbi secara tepat dan bijak karena tujuannya untuk mengingatkan dan bukan mengadili.

6. Tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan menetapkan skala pririoriti bagi pekerjaan-pekerjaan yang akan dilaksanakan berdasarkan kadar urgennya.

Selain adab-adab pokok tersebut, secara lebih spesifik ada adab yang harus dipenuhi oleh peserta/anggota halaqah terhadap diri mereka sendiri, terhadap murabbi, dan sesama peserta halaqah. Mula-mula seorang peserta halaqah hendaknya memiliki kesiapan jasmani, rohani dan akal saat menghadiri liqo’ halaqah. Ia semestinya membersihkan hati dari aqidah dan akhlak yang kotor, kemudia memperbaiki dan membersihkan niat, bersahaja dalam hal cara berpakaian, makanan, dan tempat pertemuan. Selain itu, juga bersemangat menuntut ilmu dan senantiasa menghiasi diri dengan akhlak yang mulia.

Selanjutnya terhadap murabbi hendaknya ia tsiqah (percaya) dan taat selama sang murabbi tidak melakukan maksiat. Lalu berusaha konsultatif atau selalu berkomunikasi dan meminta saranan-saranan tentang urusan-urusan dirinya kepada murabbi. Selain itu, ia juga berupaya memenuhi hak-hak murabbi dan tidak melupakan jasanya, sabar atas perlakuannya yang boleh jadi suatu saat tidak berkenan, meminta izin, serta bertutur kata yang sopan dan santun.

Dan akhirnya adab ikhwah sesama peserta halaqah dengan mendorong peserta lain untuk giat dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti tarbiyah. Lalu tidak memotong pembicaraan teman tanpa izinnya, selalu hadir tidak terlambat dan dengan wajah berseri, memberi salam, bertegur sapa, dan tidak menyakiti perasaan. Selain itu, terhadap lingkungan di sekitar tempat halaqah berlangsung, hendaknya semua peserta halaqah selalu menunjukkan adab-adab kesantunan, mengucapkan salam, meminta izin ketika datang mereka, dan minta iziz bila akan pulang serta menziarahi mereka lagi.

Tiga proses perkembangan

Adapun ketiga proses perkembangan tersebut adalah :

Pertama : pembinaan akidah, ini merupakan masa yang sangat fundamental dalam membentuk keperibadian seorang muslim, karena ia merupakan landasan asas bagi perkembangan lainnya, akidah yang dimaksud bukanlah sekedar pengetahuan kering yang hanya membahas masalah-masalah yang tidak bermuara pada amal, dan tidak bermanfaat bagi pertumbuhan ghirah islamiyah dan semangat berda’wah, akan tetapi akidah yang dimaksud adalah sebagaaimana yang dipersepsikan oleh as-syahid Sayyid Qutub Rohimahulloh diman beliau berkata : “ masa pembinaan akidah melewati masa yang panjang, sehingga langkah-langkah pembinaan secara perlahan dapat mendekati kesempurnaan, dengan kedalaman dan kemantapannya, sebaliknya ini jangan hanya sekedar menjadi pelajaran teori, akan tetapi masa ini secara prioriti harus dipahami sebgai masa menterjemahkan akidah dalam gambaran kehidupan nyata dengan segala kualiti perasaan dan amal perbautan yang tercermin dalam bangunan kehidupan berjamaah dengan gerakan kolektifnya. Adalah sebuah kesalahan nyata bila akidah hanya menjadi kerangka teori yang hanya sekedar dijadikan sebagai perbincangan pelajaran intelektual”.

Kedua : Masa aplikasi, setelah akidah tertanam kuat pada diri sang mad’u, dan ia merasakan hubungan dan ketergantungan yang kuat kepada Allah SWT, maka berikutnya adalah masa aplikasi , yaitu pantulan tabiat dari keyakinannya dalam prilaku, gerak-geri, akhlak dan ubudiahnya, maka bila masa ini dapat dilalui dengan baik berarti telah terjadi keselarasan “ bainal madzhhar wal jauhar” antara esensi dan substansi, antara kulit dan isi , antara teori dan praktis, antara konsep dan realiti dan antara ilmu dan amal. Oleh karena tuntutan dan target masa ini adalah masa seseorang untuk membentuk dirinya sehingga terjadi kesesuian antara apa yang diyakinaninya (akidahnya) dengan amalan syar’i yang lekat secara menyeluruh pada dirinya dan muncul dari refleksi akidahnya.

Ketiga : masa pemetaan amal islami, setelah akidah sang mad’u kuat dan amaliah syar’inya bagus, maka berarti ia telah menunjukan kesiapannya untuk dipetakan atau ditempatkan dalam projek amal islami (amal da’wah) dibawah naungan jamaah dan da’wah, dan dijelaskan kepadanya dalil-dali syar’i yang mengarahkan kewajiban bekerja di bawah naungan jamaah dan tidak menghindar dari padanya walau hanya sejengkal. Kesimpulannya bahwa tarbiah fardiah dimulai dengan tarbiyah islamiyah dan diikat kemudian dengan aml jama’i.

Kaidah Asasiyah

Terakhir, yang menjadi catatan penting dalam mentarbiyah adalah kaidah-kaidah asasiyah yang harus di perhatikan oleh sang Murabbi, dan menerapkan kaidah-kaidah tersebut disela-sela aktivitinya dalam menjalankan tarbiyah fardiyah. Kaidah-kaidah tersebut di antaranya adalah :

1. Ar-Rifq, yaitu kelemahlembutan, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Imran : 159, kelemah lembutan adalah asas dalam bermuamalah, seoarang da’i tidak dapat mengambil hati mad’unya, kecuali bila ia mendekatinya dengan penuh lemah lembut sehingga menjadi mudah untuk menguasai hatinya.

2. Al-Ibti’adu anidzdzammi wattaa’aatubi , yaitu menjauhkan sikap agresif yang cenderung mencela dan mendiskriditkan, karena sesungguhnya da’wah tidak dibangun di atas celaan dan cemohan, melainkan dengan Tanashuh (menjaga) dan Taghafur (mema’afkan) serta Al-Irsyad bil husna (membimbing dengan cara – cara yang baik. Sebagaiman Ibnussamak seorang Ulama yang zuhud – Rahimahulloh- ketika seseorang berkata kepaadanya : “Kita bertemu lagi besok dalam rangka saling mencela”, lalu jawab Ibnu samak : “Bal baini wa bainaka ghodan nataghafar” (Tidak, akan tetapi kita bertemu besok untuk saling memaafkan).

3. At-tarbiyah Tamhid wattasywiq, Tarbiah itu harus dijalankan dengan perlahan bukan dengan paksaan, dengan memunculkan kesenangan bukan ketakutan, hal ini tentu saja memerlukan kesabaran, karena untuk dapat menikmati buahnya kadang harus menunggu masa panjang dan waktu yg lama.

4. At-Tasyji’, yaitu motivasi sang da’i Murabbi terhadap mad’unya, berupa “reward”, apresiasi dan penghargaan, untuk menambah semangat dan mendorongnya untuk beramal, sebagaiman yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat Suhaib bin sinan ar-rumy, yang hijrah ke Madinah dengan meninggalkan seluruh hartanya setelah diambil seluruhnya oleh orang-orang musyrikin, dan dia hanya bisa menyelamatkan agamanya, Rasulullah SAW menyambut kedatangannya seraya berkata : “Rabiha Suhaib” (beruntunglah Suhaib).

Advertisements
Comments
  1. Alhamdulillah ! terimakasih ats bahan2 yg bermakna ini.teruskan usaha tuan.Allahuakbar !!!

  2. muasz says:

    askum..us hafiz…baru kaluar pnulisannya…sudh llama dtunggu
    doakan kejayaan saya.

  3. Alihanafiah says:

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh… Akhi fillah… Hari tu baru termimpikan akh… Rindu bertemu akh… Salam perjuangan memburu syahid… Doakan ana menjadi insan yang thabat…. Wassalam wal ikram…

  4. ana says:

    Assalamualaikum..penulisan yang cantik dan bermanfaat..Allah yardha alaik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s