SURAT DARI IBU YANG TERKOYAK HATINYA

Posted: February 14, 2011 in Uncategorized

Anakku.

Ini surat dari ibu yang terkoyak hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Ibu tahu anakku ini lelaki yang hebat lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.

Sejak doktor menghabarkan tentang kehamilan, aku sangat berbahagia saat itu, Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikologi dan fizikal. Sembilan bulan aku mengandungmu. Seluruh aktiviti aku jalani dengan susah payah kerana kandunganku.

Anakku,

Meskipun begitu getir saat itu ia tidak mengurangi kebahagiaanku intuk menyambut kehadiranmu. Kesengsaraan yang tiada hentinya pada waktu itu, bahkan kematian seolah2 didepan mataku saat aku melahirkanmu.Namun jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan aku sabagi ibu yang melahirkanmu.

Setelah itu wahai anakku, aku umpama pelayan yang tidak pernah kenal erti rehat. Kepenatanku demi kesehatanmu wahai anakku. Kegelisahanku demi kebaikanmu wahai anakku. Harapanku hanya ingin melihat senyum sihatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu.

Anakku,

Apabila engkau mencapai usia pemuda wahai anakku. Kematanganmu semakin terlihat, Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu.

Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.

Akan tetapi anakku, seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa minit saja untuk melihat anakku.

Anakku,

Ibu sekarang sudah sangat lemah, badan sudah membungkuk, gementar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku, ibu semakin susah melakukan gerakan.

Anakku,

Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu wahai anakku.

Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu ? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ? Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ?

Anakku,

Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Bilakah hatimu teringat untuk menjenguk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan pada anaknya sekaligus mengubat duka dan kesedihan ini

Ibu tidak akan mengadu kondisi ini kepada Dzat yang maha Agung. Ibu juga tidak akan menceritakan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya wahai anakku.

Anakku,

Walau bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku.

Anakku,

Anakku suatu hari nanti kau juga harus tahu bahawa uban-uban akan banyak di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat.

Anakku,

Takutlah engkau kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada Ibu.. Terserahla kepadamu jika engkau ingin merobek-robek surat ini. Ketahuilah, Barangsiapa beramal shalih maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat keburukan, maka itu (juga) menjadi tanggungannya sendiri.

Anakku,

Ingatlah saat engkau berada di perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menggetirkan. Ibu merasa dalam kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa Ibu. Ingatlah saat engkau menyusui. Ingatlah belaian sayang dan kelelahan Ibu saat engkau sakit.

Karena itu, Allah menegaskan dengan wasiat : “Wahai, Rabbku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil”.

Anakku,

Allah berfirman: “Dan dalam kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal” [Yusuf : 111]

Anakku lihatlah sirah Nabimu, masa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam masih hidup, supaya engkau memperoleh potret bakti anak kepada orang tuanya.

Edit by: Nukilan MHS

14/2/2011

IPOH

Advertisements
Comments
  1. humaidi91 says:

    ya syeikh, ibu itu yang patut kita jaga hatinya terutama selepas berkahwin.jazakallah atas perkongsian menarik ini.

  2. humaidi91 says:

    mohon share ya akh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s