SETIAP KALI USRAH PERKARA INI TIDAK SAYA TINGGALKAN SEBAGAI ISI UTAMA PENGISIAN USRAH.

Posted: January 4, 2011 in Uncategorized

Inilah antara fenomena yang sangat merbahaya yang sering menyerang sebahagian Da’ie.

Bagi kalangan Da’ie, hal demikian cukup berbahaya dan berpotensi melemahkan kekuatan dirinya dalam menghadapi mehnah tribulasi dalam perjuangan, Semua kita tahu bahwa aspek ruhiyah serta ibadah merupakan benteng hadapan bagi Da’ie.

Apabila nilai-nilai tadi satu persatu terurai dari genggaman Da’ie, maka ia akan merungkaikan sedikit demi sedikit ruhiyahnya, kemudian sakit dan berakhir dengan kematian ruhiyah tersebut, na’udzubillah.

Fenomena ruhiyah yang lemah ini tidak sedikit jumlahnya. Di sini bersama kita berkongsi sebahagian masalah dan beberapa perkara yang berlaku dilapangan kehidupan Da’ie agar dapat menjadi peringatan bagi setiap Da’ie dan selanjutnya dia bersegara mengatasinya.

1. Merasakan keras dan kasarnya hati, hingga seseorang Da’ie merasakan bahwa hatinya telah berubah menjadi batu keras. buktinya al Qur’an telah menerangkan bahwa hati dapat mengeras sekeras batu. Allah berfirman, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi…” QS Al Baqarah [2]: 74

2. Sifat angkuh dan dada yang sempit. Ada dikalangan Da’ie sampai-sampai terasa ada beban berat menghimpit dan nyaris terengah-engah kelelahan, sering komen dan mengeluh terhadap sesuatu yang tidak jelas atau gelisah dan sempit dalam pergaulan sehingga tidak peduli terhadap derita orang lain bahkan timbul ketidaksukaan kepada Da’ie yang lain.

3. Tidak terpengaruh oleh ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung ancaman, tuntutan, larangan atau tentang peristiwa kiamat. Dia mendengarkan al-Qur’an seperti mendengar kalam-kalam lainnya. Lebih berbahaya lagi apabila dia merasa sempit ketika mendengarkan ayat al-Qur’an. Dia tidak menyediakan waktu sedikitpun untuk tilawah dan apabila mendengarnya dari orang lain dia tidak mendengarnya dengan khusyu’ dan tenang

4. Peristiwa kematian tidak memberikan bekas pada dirinya. Begitu juga ketika menyaksikan orang mati, mengusung jenazah atau menguburkannya di liang lahat, sedikitpun tidak ada pengaruh pada dirinya. Jika melewati pekuburan seakan hanya melihat batu-batu bisu tidak mengingatkannya akan kematian.

5. Kecintaanya terhadap kesenangan duniawi senantiasa bertambah. Kesukaannya memenuhi syahwat selalu berkobar. Fikirannya tidak jauh dari pelampiasan syahwat tadi sehingga dia merasa tenteram bila sudah memperolehnya. Apabila melihat orang lain memperoleh kenikmatan dunia seperti harta, kedudukan, pangkat, rumah atau pakaian yang bagus dia merasa tersiksa dan Da’ie itu menganggap dirinya gagal. Lebih tersiksa lagi apabila yang mendapatkan kenikmatan duniawi itu adalah saudaranya sendiri atau sahabatnya. Terkadang timbul pada dirinya penyakit hasad di mana dia tidak ingin kenikmatan itu tetap ada pada saudaranya.

6. Ada kegelapan dalam ruhiyah yang berbekas di wajahnya. Hal ini dapat diamati oleh mereka yang memiliki ketajaman firasat dan memandang dengan nur Allah. Setiap mu’min memiliki nur sesuai dengan kadar keimanannya, dia mampu melihat sesuatu yang tidak mampu dilakukan orang lain. Kegelapan ruhiyah tadi ada begitu pekat sampai begitu jelas tergambar di wajahnya dan dapat diamati oleh mereka yang meiliki firasat imaniyah paling lemah sekalipun. Tetapi kegelapan yang jelas hanya dapat diamati oleh mereka yang memiliki firasat imaniyah yang kuat.

7. Bermalas-malasan dalam melakukan kebaikan dan ibadah. Hal tersebut terlihat dengan kurangnya perhatian dan semangat. Solat yang dilakukan hanya sekadar gerakan, bacaan, berdiri dan duduk yang tidak memiliki atsar sedikitpun. Bahkan nampak dia merasa terganggu oleh shalat seakan dia berada dalam penjara yang dia ingin berlepas darinya secepat mungkin.

8. Lupa yang kebergantungan Hidupnya kepada Allah. Sedikitpun dia tidak berdzikir dengan lisannya dan tidak juga ingat kepada-Nya. Padahal dia selalu menyaksikan ciptaan Allah Swt. Bahkan terkadang dia merasa keberatan untuk sekedar berdzikir atau berdo’a kepadanya. Jika dia mengangkat tangannya, cepat sekali dia turunkan kembali untuk segera pergi.

Kader-kader Da’wah ayuh kita jadikan pesanan ini sebagai muhasabah buat diri kita, kita mesti meletakkan matlamat yang jelas dalam setiap inci kehidupan kita bahawa Da’wah ini sangat memerlukan penggerak-penggerak yang ikhlas dalam setiap amalannya, jangan biarkan amal ibadah kita yang selama ini disangkakan banyak dilakukan kita berterbangan seperti debu ketika ketika kita berada di Yaumul Akhirat, hari dimana manusia tidak dapat berdolak dalih dengan belbagai alasan sepertimana mereka beralasan di atas muka bumi satu tika dahulu.

Advertisements
Comments
  1. Teruskan menulis dan terus menukilkan idea~

  2. salam ziarah,

    syukran kasir atas perkongsian..teruskan menulis =)

  3. jazakallah atas perkongsian. keep on writing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s